Welcome to Spider Share Blog

Selamat datang di Spider Share Blog.
Blog ini akan segera berpindah ke
Mohon kunjungannya ke blog saya yang baru. Dan Jangn lupa di-follow ya.. :)

Hermawan Abdillah

Headlines

Spider Share dot Info

↑ Grab this Headline Animator

Showing posts with label Info Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Info Pertanian. Show all posts
Monday, March 5, 2012

Klasifikasi dan Perbedaan Morfologi dan Botani Gulma

44 comments

Pengklasifikasian gulma dapat digunakan untuk membantu manusia mengenal dan mengetahui jenis gulma rumputan, daun lebar dan tekian, melakukan analisis vegetasi gulma, dan dapat melakukan aplikasi herbisida secara tepat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, berdasarkan morfologi dan botaninya, gulma dapat diklasifikasikan menjadi 3. Perbedaan morfologi dan botani tiga golongan gulma tersebut (rumput, teki, dan daun lebar) dapat dilihat di bawah ini masing-masing dengan contoh.

1. Golongan rumput (grasses)
Gulma golongan rumput termasuk dalam familia Gramineae/Poaceae. Dengan ciri, batang bulat atau agak pipih, kebanyakan berongga. Daun-daun soliter pada buku-buku, tersusun dalam dua deret, umumnya bertulang daun sejajar, terdiri atas dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis (linier), tepi daun rata. Lidah-lidah daun sering kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun dan helaian daun.
Dasar karangan bunga satuannya anak bulir (spikelet) yang dapat bertangkai atau tidak (sessilis). Masing-masing anak bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil (floret), di mana tiap-tiap bunga kecil biasanya dikelilingi oleh sepasang daun pelindung (bractea) yang tidak sama besarnya, yang besar disebut lemna dan yang kecil disebut palea.Buah disebut caryopsis atau grain. Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contohnya yaitu :
a. Cynodon dactylon (L.) Pers. (kakawatan, gigirintingan suket grinting).
b. Eleusine indica (L..) Gaena (rumput kelulang, cerulang jukut jampang).
c. Imperata cylindrica (L.) Beauv (alang-alang carulang, jukut jampang).
d. Echinochloa crus-galli (L.) Cerv( jajagoan).
e. Echinochloa colanum (L.) Cerv (jajagoan leutik).
f. Panicum repens L. (lulampuyangan, jajahean).
g. Paspalum conjugatum Bergrn (jukut japang pait, jukut pait, rumput)

2. Golongan teki (sedges)
Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae.Batang umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang juga bulat dan biasanya tidak berongga.Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula).Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung. Buahnya tidak membuka. Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan. Contohnya adalah :
a. Cyperus bervifolius (jukut pendul)
b. Cyperus rotundus L (teki)
c. Cyperus difformia L. (jukut papayungan).
d. Cyperus halpan L. (papayungan)
e. Cyperus iria L. (jekeng, lingih alit).
f. Cyperus kyllingia Endl. (jukut pendul bodas, teki, teki bodot, teki pendul).
g. Fimbristylis littoralis geidlah (F. miliacea (L) cahl (panon munding, tumbaran).
h. Scirpus grossius L.F (waligi, wlingen, lingi, mensing)

3. Golongan berdaun lebar (broad leaves)
Gulma berdaun lebar umumnya termasuk Dicotyledoneae dan Pteridophyta. Daun lebar dengan tulang daun berbentuk jala. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budi daya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Contohnya yaitu :
a. Salvinia molesta D.S Mit het (kimbang, kayambang janji, lukut cai, lukut)
b. Marsilea crenata presl (semangi, samanggen).
c. Azolla pinnata R. Br (kaya apu dadak)
d. Limnocharis flava (L. Buch (genjer, centong)
e. Ageratum conyzoides L. (bebadotan, wedusan).
f. Borreria alata (Aubl. (DC (kabumpang lemah, goletrak, letah hayam, rumput setawar).
g. Stachyarpheta indica (L.) vahl (jarong, gajihan)
h. Amaranthus spinosus L. (bayam duri, bayem eri, senggang cucuk).
i. Synedrella nodiflora (L.) gaentn (babadotan lalakina, jotang, jotang kuda).
j. Physalis angulata

Untuk posting-postingan menarik dan inovatif lainnya cek di --> Daftar Isi

Setelah membaca, Mohon Post-kan komentar
Terima Kasih
Yang lainnya :
Continue reading →

Thursday, October 20, 2011

Pemecahan Dormansi Kelapa Sawit

0 comments
Dormansi Benih Kelapa Sawit

Benih kelapa sawit termasuk benih yang mengalami dormansi cukup lama sebelum berkecambah. Mangoensoekarjo dan Semangun (2005) menyatakan bahwa ketika baru dipanen, benih kelapa sawit mengalami dormansi dan perkecambahan alami sangat jarang terjadi selama lebih dari beberapa tahun. Sementara itu, perkebunan membutuhkan benih yang lebih cepat untuk berkecambah.
Pemecahan dormansi dapat dilakukan pada suhu 40 ºC selama 80 hari. Pemberian oksigen berkonsentrasi tinggi dapat membantu perkecambahan jika diberikan selama atau setelah proses pemanasan (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).
Benih kelapa sawit termasuk ke dalam benih rekalsitran sehingga tidak tahan disimpan dalam suhu dingin dibawah 5 ºC dan akan mati apabila kadar airnya berada di bawah 12,5 % (Chin & Robert, 1980). Lubis (2008) menambahkan kadar air yang optimal untuk perkecambahan benih kelapa sawit adalah ± 23 %. Kondisi ini dapat terpenuhi dengan cara menyimpan benih di dalam kantong plastik dan menempatkanya di ruang perkecambahan yang suhunya dapat tetap dikontrol.

Pematahan Dormansi Benih Kelapa Sawit

Menurut Mangoensoekarjo dan Semangun (2005) ketika baru dipanen, benih kelapa sawit mengalami dormansi dan perkecambahan alami sangat jarang terjadi selama lebih dari beberapa tahun. Dormansi adalah suatu kondisi dimana benih tidak berkecambah meskipun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Oleh karena itu diperlukan teknik khusus untuk mematahkan dormansi tersebut.
Mangoensoekarjo dan Semangun (2005) menyatakan pemecahan dormansi benih kelapa sawit dapat dilakukan pada suhu 40 ºC selama 80 hari. Pemberian oksigen berkonsentrasi tinggi dapat membantu perkecambahan jika diberikan selama atau setelah proses pemanasan.
Menurut Haryani (2005) dormansi benih kelapa sawit disebabkan adanya penghalang berupa struktur penutup di germpore yaitu operculum
Pemecahan dormansi yang digunakan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yaitu pemanasan benih pada suhu 40 °C selama 60 hari. Ruangan pemanas dilengkapi dengan kipas angin, thermograph, sinko, dan heater. Fungsi heater adalah untuk menyemburkan panas secara otomatis sedangkan thermograph berfungsi sebagai alat perekam suhu ruangan yang bekerja secara berkesinambungan pada proses pemecahan dormansi. Sinko berfungsi sebagai alat kontrol, apabila suhu lebih dari 40 °C maka alat ini akan bekerja mematikan heater dan menghidupkan kipas angin.
Hasil penelitian PPKS menunjukkan dormansi benih kelapa sawit sudah dapat dipatahkan dengan pemanasan selama 60 hari, dikombinasikan dengan perendaman dan pengeringan sebelum dan setelah perlakuan pemanasan. Hal ini dibuktikan bahwa dengan perlakuan tersebut persentase daya berkecambah benih kelapa sawit PPKS tahun 2007 adalah 83.4 % (Arif, 2008).
Kegiatan pematahan dormansi di PPKS adalah perendaman I selama 7 hari, pengeringan selama 24 jam, dilanjutkan dengan pemanasan selama 60 hari. Setelah dipanaskan selama 60 hari dilakukan perendaman kedua selama 3 hari dan pengeringan selama 5 jam. Perendaman berfungsi untuk mencuci zat-zat yang menghambat dan melunakkan buah atau kulit benih dan pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air benih sehingga benih aman untuk diproses lebih lanjut serta terhindar dari serangan hama dan penyakit (Haryani, 2003; Sukarman dan Hasanah, 2003). Perlakuan pemanasan bertujuan untuk mematahkan dormansi benih kelapa sawit. Dengan pemanasan diharapkan operculum menjadi retak sehingga benih dapat berkecambah. Setelah proses pemanasan selesai benih siap dikirim ke ruang pengecambahan

Manfaat Pematahan Dormansi Benih Kelapa Sawit
Dengan adanya pematahan dormansi pada benih kelapa sawit maka sebagian besar benih dapat disalurkan dalam bentuk kecambah sehingga dapat memudahkan konsumen dalam membudidayakannya.


Kecambah yang disalurkan kepada konsumen harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan untuk menjamin mutu bibit yang dihasilkan. Kriteria kecambah siap salur yang digunakan PPKS adalah
(1) kecambah tumbuh sempurna,
(2) plumula dan radikula sudah dapat dibedakan (berbentuk seperti huruf T),
(3) plumula dan radikula tumbuh berlainan arah
(4) plumula dan radikula tampak segar,
(5) kecambah tidak berjamur dan
(6) panjang plumula dan radikula maksimum 2 cm.

REFERENSI :

Rani Kurnila. PENGENDALIAN MUTU PRODUKSI BENIH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacquin) DI PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT MARIHAT, SUMATERA UTARA. Repository Institut Pertanian Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/20138/A09rku.pdf?sequence=2

Sutopo, Lita. 1999. Teknologi Benih. Rajawali pers: Jakarta.


Setelah membaca, Mohon Post-kan komentar
Terima Kasih
Yang lainnya :
Continue reading →

Tuesday, October 19, 2010

Konsep Pentose Phospate Pathway ( PPP ) atau Jalur Pentosa Fosfat

3 comments

Konsep Pentose Phosphate Pathway ( PPP )

Pada tahun 1950, para ahli fisiologi tumbuhan mulai menyadari bahwa glikolisis dan daur krebs bukanlah satu–satunya reaksi tumbuhan dalam memperoleh energi dari oksidasi gula menjadi CO2 dan air. Karena senyawa-antaranya adalah gula fosfat 5-karbon maka rangkaian reaksi alternatife itu biasanya disebut lintasan pentose fosfat atau Pentose Phospate Pathway (PPP).
Lintasan pentose fosfat seperti glikolisis, prosesnya berlangusng di sitosol (sitoplasma)

Hubungan Pentose Phosphate Pathway ( PPP ) dengan Glikolisis

Hubungan pentose phosphate pathway ( PPP ) dengan glikolisis adalah PPP merupakan jalur alternative reaksi tumbuhan dalam memperoleh energi dari oksidasi gula menjadi CO2 dan air selain melalui proses glikolisis.
Reaksi PPP serupa dengan reaksi pada glikolisis. Disamping itu, glikolisis dan PPP mempunyai pereaksi tertentu yang lazim dan keduanya terjadi terutama di sitosol, sehingga kedua lintasan saling terjalin. Satu perbedaan penting ialah di PPP penerima elektonnya selalu NADP+, sedangkan di glikolisis penerima elektonnya adalah NAD+.
Setelah membaca, Mohon Post-kan komentar Terima Kasih
Continue reading →

Sunday, September 5, 2010

Konsep Tanaman dan Tumbuhan

0 comments
Sekilas kita tahu kalau yang namanya tanaman dan tumbuhan itu sama..
padahal sebenarnya tidak...

Apa itu Tumbuhan ??
Apa itu Tanaman ??
Apa Bedanya ??

Sebenarnya perbedaan antara tumbuhan dan tanamn terletak pada peran manusia terhadap suatu flora..

Tumbuhan ialah flora asli yang hidup bebas di alam,
Contoh Tumbuhan

Sedangkan tanaman ialah suatu flora yang telah dibudidayakan manusia sehingga mempunyai nilai guna yang lebih baik...
Contoh  Tanaman


Moga dapat difahami, jadi anda bisa jawab pertanyaan ini..

Menurut anda gulma tumbuhan atau tanaman ?? Jelaskan ??

Setelah membaca, Mohon Post-kan komentar Terima Kasih
Continue reading →

Sahabat

My Community

logo htc Kaskus Blogger Community bloggersumut.net

Statistik Blog

SEO Stats powered by MyPagerank.Net